Laman

Kamis, 13 Juni 2013

Tak ada rotan, akar pun pun jadi (Cerita Centong)

Membaca banyaknya status FB tentang keluhan seputar tingginya harga wysman atau menghilangnya wysman dari pasaran, selintas membuat saya berpikir, emang segitu hebatnya ya si wysman ini? Orang mana sih pak wys ini?
Jagoan mana sama mas wisnu ali martono yg jd moderator 15ribu org atau wis-wis lainnya? Hehehehe....

Saya,
Jujur bukan pengguna wysman
Terlebih saya juga bukan pemain kue kering.
(Tangan saya gendot2 ya, jadi rada males ngurusin kue kering yg printilan2 dan cepet abis dimakan begitu)

Jadi,
saya kurang mengerti penderitaan bakulan wysman.
Saya tidak mengerti, kenapa harus menggunakan wysman ketimbang orchid atau blue triangle
Atau bahkan margarine
Saya pun tidak memahami,kenapa sebuah wysman bisa membuat produksi bakulan berhenti.

Tapi satu hal yg saya mengerti
Bahwa a great chef/bakers or apalah namanya
Tidak tergantung pada bahan dan alat
Tp pada skill of surviving.
Itulah sebabnya skill ini diasah diajang masterchef dgn mystery box atau challenge lain
*berharap pak didi han dan beng bisa cerita pengalaman mereka

Jika wysman langka,
Bukankah inilah saat yg tepat melatih diri dan resep baru tanpa butter?
(Teringat posting mba Besta arlita ttg kue kering margarinenya, yg jg jadi andalan disaat wysman naik harga th lalu)

Jika wysman mahal,
Bukankah inilah saat yg tepat untuk menghubungi supplier dan mencoba menggunakan butter oil substitute?
*colek Charisma Wu

Saya teringat di kelas kue kering yg saya ikuti bersama mba riana ambarsari dan juga berbincang bersama mba Fat di awal saya mengikuti kelas cake dasar beberapa tahun lalu
Para suhu ini jelas mengatakan bahwa TIDAK ada alasan utk TIDAK berkarya.

Ketika itu mba Fat cerita ia mengawali karir nya dengan 5 alat sederhana saja
Yaitu baskom, mikser tangan, loyang lapis surabaya, oven, dan ah, saya lupa satu lagi.
Ia memotivasi saya yg kala itu masuk dapurpun dilarang, bahwa tak ada alat2 keren dan canggih, saya tetap bisa memulai berjualan.

Mba Riana juga kerap mengatakan pengganti2 bahan jika tidak ada bahan yg tercantum dalam resep susah didapat didaerah asal peserta
(Teringat saya pada postingan bu Heritha yg menggunakan sisa buttercream menjadi kue kering dgn menambahkan terigu dan telur serta resep buttermilk cupcakes nya yg menggunakan bahan pengganti)

Bahkan beberapa chef hebat luar negeri kerap membuat acara memasak di area2 yg terisolasi, seperti kota terpencil, hutan, padang pasir dll, hanya untuk memperlihatkan bahwa keterbatasan bahan dan minimnya alat bukan halangan menciptakan karya enak dan luar biasa
(Yah, meski memang bisa saja tayangan tersebut sudah disetting duluan, tapi buat saya, tetep inspiratif kok)

Dan bukankah sesuatu yg kreatif itu harganya menjadi jauh lebih mahal dan dicari-cari ketimbang yang biasa2 saja?
Kue lemon atau snowball atau jaan hagels NCC menjadi idola dirumah saya, karena bosannya melihat nastar, putri salju dan kastengels setiap natal.

Kita ini warga NCC loh..
Spirit berani mencoba dan berbagi resep itu wajib hukumnya

Jadi,
Marilah teman-teman sekalian,
Sebagai ciptaan termulia karena dibekali dgn akal,
Ketiadaan wysman sebaiknya ditanggapi dengan kepala dingin, hati dingin dan pikiran positif.

Mari buka lagi koleksi resep kita,
mari belajar "naik kelas" dari bakulan biasa yg didukung alat dan bahan hebat, menjadi bakulan luar biasa yg bermotokan "apapun bahannya, apapun alatnya, saya tetap menghasilkan kue/masakan enak"

Semoga cukup menenangkan tangis teman2 pengguna wysman ya..
*group hugs!

*tarik selimut, peluk guling, balik tidur lagi, abis begadang kerjain tesis

*tulisan ini dapat dilihat juga di blog Cerita Centong

Tidak ada komentar:

Posting Komentar